Monthly Archives: October 2007

3 Comments

Share This :

Ulel melingkel diatas pagel...
anjing pudel naik squtel...
kalo miftakhzein pernah buat kamu kesel...
dari lubuk hati yang dah gak kucel, miftakhzein nyesel!
Maapin Yha...!!!

kartu lebarannya zein

met lebaran, met idul fitri
mohon maaf lahir dan bathin
maaf apabila ada:
kata-kata yang menyakitkan hati,
kata-kata yang menjengkelkan,
kata-kata yang membuat marah,
posting yang menjengkelkan,
posting yang gak sesuai harapan,
hasil search engine yang gak sesuai harapan,
penjelasan yang kurang lengkap dan kurang jelas,
ada comment yang nggak dibales,
design yang jelek,
dan semua yang nggak sempurna di web-logg ini,

Semoga kita semua menjadi manusia yang lebih baik dan lebih manusiawi dibanding sebelumnya.

2 Comments

Share This :

Sebelum saya menulis tentang "DILEMA BAJU BEKAS" saya [boy] berdiskusi dengan seorang cewek [girl] tentang "Dilema Pakaian Bekas" ini. Awalnya saya meminta pendapatnya.

[boy]: "Hon, kalau dilihat kan banyak ya orang-orang yang nyumbang baju-baju bekas ke Panti Asuhan. Anak-anak yang menerima itu seneng / sedih ya kira-kira? Apalagi saat bermain sama anak-anak lain yang pakai pakaian baru tapi dia pakai pakaian bekas, sedih aku".

Dan seorang cewek itu memberikan sebuah jawaban yang menarik,

[girl]: "Gak tau ya bi, tapi dulu pas SMP-SMA ak pernah anterin baju-baju layak pakai beberapa kardus ke Panti Asuhan, mereka seneng-seneng aja pas buka kardus teruz dibagi2 gitu. Gak sedih tu, asik-asik aja. Apalagi kalau bajunya masih bagus walau gak baru, biasae dipake teruz lho. Biasnya mereka tu kaya udah sadar, realize kalau baju-baju baru & segala macam yang baru-baru itu emang indah tapi ya susah didapat, so syarat kebahagiaan mereka jadi amat sederhana: ckuplah perhatian dari orang lain di luar sana. Itu dulu yang dapat tak simpulkan.."

Kemudian aku memberikan sebuah opini dan bertanya lagi,

[boy]: "Gitu ya? Dirumah kan banyak tu baju-baju terus sama bunda dkumpulin kerduz banyak2 terus dikasih Panti Asuhan. Kadang pas ak liat ad anak pake bajuku,jadi sedih & berpikir: ya ampun, itu baju yang dulu kupakai, mengapa sekarang kau pakai, itu bajuku yang lama, tak layakkah kau mendapat yang lebih baek daripada bekasku, andai aku mampu & bisa kukasih kau yangg baru. Tp mungkin itu pikiranku saja ya? Tapi apa mereka bangga?"

Dan secara mengejutkan, seorang cewek itu memberikan sebuah opini yang sama denganku,

[girl]: "Wah...sama bi! Tu ad namanya Rusdah depan rumah tiap hari, apalagi hari2 penting kaya mo ngaji, pergi-pergi kemana tu pake bajuq / adek2q. Dia senyum-senyum aja, ga malu pas tak tanya: lho dek muat ya bajunya? Yaah... itu baru baju bekaz bi, belom kalo diksih baru. Betewe, lama juga gak ke Panti Asuhan"

[boy]: "Kesimpulane sementara berarti, sah-sah aja ngasih baju bekas asal bagus & layak, anak-anak seneng kalau dikasih dan diprhatikan, yang nyumbang gak usah mikir macem-macem dulu pokoknya niat ibadah, terus apalagi hon? Tapi yang pnting emang bisa membuat mereka tersenyum ya?"

[girl]: "Cukuplah bi... Bikin mereka senyum itu cuma sebagian kuwecil yang bisa dilkukan, aku apalagi belom bisa bikin lebih dari itu. Tapi bikin mereka jadi orang berhasil, berdikari dan beragama itu lebih bikin senyum mereka mengembang. Bi, ko bs y..mom bru blg k dad mo kasih baju+duit bwat Rusdah,sarung bwat kakeknya. Pas banget c ma obrolanku ma abi!"

[boy]: "€Rizkinya dia mgkin. Hmm.. km bner,hebat km hon,ak ndak brpikir+ndak pnya pikiran sperti itu, gmn cranya biar mrk jd org brhasil+bragama,emang it yg pnting bwat ms depannya"

Sebuah obrolan di pagi hari yang penuh makna.......

Share This :

Al Imron 134
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Tentulah kita pernah mendengar dan melihat tentang sumbangan, infak, maupun shodaqoh yang marak saat ada bencana alam. Hal-hal demikian itu juga banyak terjadi pada bulan Ramadhan ini. Ya, bulan Ramadhan di pandang sebagai bulan yang mulia dan tepat untuk meningkatkan amal dan ibadah. Shodaqoh, infak, dan zakat merupakan beberapa diantara berbagai macam ibadah yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan selain puasa, tarawih dan tadarus / mengaji (mengkaji isi Al Qur'an).

Al Baqarah 3
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Tentunya tidak sedikit diantara saudara-saudara kita bahkan mungkin kita sendiri yang pernah memberikan sumbangan kepada orang lain, baik itu sumbangan berupa tenaga, pikiran, sumbangan dana, sumbangan sembako, maupun sumbangan pakaian bekas.

Kali ini saya akan mengangkat tema tentang sumbangan pakaian bekas. Ada sebuah wacana menarik yang baru saya dapatkan dari seseorang yang pernah mengasuh dan menjadi kepala sebuah Panti Asuhan. Yaitu, beliau sering sekali menerima sumbangan-sumbangan berupa pakaian bekas, sampai-sampai hasil sumbangan itu hampir penuh satu gudang. Tentu saja sumbangan pakaian bekas itu ditujukan kepada anak-anak yang berada di panti asuhan itu. Koq bisa sampai hampir satu gudang? Apakah pakaian-pakaian itu tak layak pakai? Apakah pengelola tidak menyampaikannya kepada anak-anak? Atau apakah terlalu banyak para dermawan yang menyumbang, sehingga anak-anak bingung memilih? Ternyata ada dilema dalam sumbangan berupa pakaian bekas ini.

Banyak sekali dilema yang terjadi terhadap sumbangan berupa pakaian bekas itu. Yang pertama adalah dari sisi penyumbang. Penyumbang pastilah ingin beramal dengan memberikan bantuan berupa sumbangan, bisa jadi berpikir daripada pakaian-pakaian yang sudah tidak terpakai itu terbuang percuma dan mubadzir bukankah lebih baik kalau disumbangkan? Yang kedua dari sisi penerima sumbangan dalam hal ini anak-anak, apakah mereka cukup bahagia dengan pemberian berupa pakaian bekas? Banggakah mereka memakai pakaian bekas sementara teman-temannya di sekolah/lingkungan sekitar saat ia bersosialisasi memakai pakaian yang baru? Yang ketiga dari sisi penerima dalam hal ini pihak pengelola panti asuhan, mereka tentu tidak bisa menolak sumbangan berupa pakaian bekas yang datang, namun tentu juga mereka kasihan jika melihat anak-anak yang tidak ada kebanggaan saat memakai pakaian bekas apalagi saat teman-teman di sekitarnya mamakai pakaian yang indah dan baru. Dapatkah di bayangkan bagaimana perasaan mereka? Walaupun tak semuanya seperti itu, namun yang perlu di garis bawahi adalah, cukup layak dan puaskah kita memberikan sumbangan berupa pakaian bekas? Padahal kita mampu memberikan sumbangan berupa pakaian baru...!!!

Al Baqarah 177
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dan beberapa paparan saya diatas maka kesimpulan yang bisa kita ambil adalah, pada intinya masalah yang sebenarnya terletak pada kepuasan, ketulusan hati dan niat kita untuk memberikan bantuan. Jika kita hanya mampu dan sudah cukup puas dengan memberikan bantuan berupa pakaian bekas, itu juga bukanlah hal yang salah. Namun, bukankah lebih puas lagi jika kita mampu memberikan yang terbaik. Anak-anak pun pastilah juga sangat gembira saat menerima sesuatu yang baik dan indah. Memang tidaklah mudah memberikan sesuatu yang kita cintai kepada orang lain. Semoga Allah Yang Maha Berkehendak Atas Segala Sesuatu memberikan kemudahan agar kita menjadi orang yang ringan tangan.

Al Baqarah 261
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Share This :

entah sedjak kapan engkau selalu hadir dalam tiap desah nafasku,
entah sedjak kapan engkau selalu menghiasi hari-hariku,
entah sedjak kapan engkau selalu berada dalam suka dukaku,
entah sedjak kapan engkau selalu bersemayam dalam tiap doaku,

aku tak mau melihatmu bersedih
aku tak mau melihatmu menangis
aku tak mau melihatmu bingung

Share This :

Entah sudah berapa menit terbuang percuma, hanya bengong tak tau arah. Tetap didepan notebook, dengan Microsoft Word didepan mata, jet Audio memainkan Scorpions di telinga dan dengan 7 baris hasil tulisan, tak tau lagi tulisan ini mo dibawa kemana, akhirnya gimana, ceritanya seperti apa. Akhirnya ngetik ini aja. Ternyata untuk membuat cerpen atau semacam cerita-cerita itu tak semudah menulis catatan berbentuk diary atau mengisahkan sesuatu yang kita alami seperti ini.

Menurutku untuk menulis semacam cerpen itu lebih rumit dan kadang-kadang bisa terbawa emosi terhadap cerita yang sedang kita tulis. Selain itu ternyata kita tidak bisa asal main ketik, harus direncanakan dulu alur cerita, tokoh-tokoh dan endingnya mo seperti apa, baru kita bisa mudah menyusunnya. Sedangkan aku, begitu pingin nulis ya nulis aja tanpa tau akan jadi cerita seperti apa, pokoknya kata-kata yang digunakan indah dan memiliki majas bagus. Alhasil, cerpennya gak pernah jadi, padahal sudah ada beberapa judul hahaha :D Maklumlah, bukan seorang cerpenis, selain itu aku lebih senang menulis untuk mendeskripsikan sesuatu karena bisa menggunakan majas banyak-banyak :P

Untuk tulisan aku lebih memilih menulis tentang keadaan disekitar, pokoknya sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat sosial, kebudayaan dan pendidikan. Bagiku menulis tentang masyarakat sosial lebih menyenangkan, karena banyak hal yang secara tidak langsung kita pelajari dan bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih beruntung dibandingkan orang lain.

Tapi, aku tetap berusaha untuk membuat suatu cerita, berusaha menjadi seorang penulis seperti gus Mustofa Bisri, kyai mbeling Cak EmHa Ainun Nadjib, Pak Dahlan Iskan, mbak izzatul jannah, mbak fira basuki, Sir Arthur Conan Doyle de el el. Jangan pernah menyerah, perjuangan belum berakhir :)