Yearly Archives: 2012

7 Comments

Share This :

Sudah tak terhitung lagi berapa jumlah perjalanan yang telah saya lakukan. Entah itu perjalan hidup atau perjalanan sekedar iseng berjalan tanpa tujuan atau bisa juga perjalanan mengunjungi tempat-tempat yang memiliki pesona keindahan dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Dalam perjalanan itu saya seringkali ditemani oleh empat "saksi mata" yang selalu saya bawa kemana-mana saya pergi.  Dua diantaranya seperti terpampang pada gambar dibawah ini, yaitu sepatu sneaker converse dan sandal gunung Eiger. Yang ketiga adalah ipod touch generasi ke 4, yang tanpa bosan memainkan musik-musik kesukaan saya atau menemani bermain sudoku. Dan yang ke empat adalah sebuah buku perjalanan, semacam diary tapi isinya bukan curhat  :p dimana di buku itu saya biasa menuliskan apa saja, entah puisi, sajak, atau sekedar pikiran iseng dan tentu saja tulisan tentang sesuatu yang menarik. Ke empat barang ini selalu setia menemani perjalanan saya.

Saya ingin benar-benar memulai menulis tentang travelouge saya dari tulisan ini, semoga saja berhasil :hammers Saya agak bingung juga membuat list tempat-tempat mana yang pernah saya singgahi. Namun dari tempat-tempat itu seringkali saya mendapatkan pelajaran yang berharga, dan saya rasa tidak akan saya dapatkan ditempat lain. List dibawah ini akan bertambah seiring dengan perjalanan yang saya lakukan di kemudian hari (jika masih diberi umur panjang :malus )

1. Lamongan : Wisata Bahari Lamongan (WBL)
2. DI Yogyakarta
3. Pulau Bangka
4. Pulau Lombok (Mataram) : Senggigi
5. Phuket (Thailand) : PhiPhi Island
6. Riau (Pekanbaru)
7. Batam
8. Jambi
9. Singapura
10. Palembang : Pulau Kemaro
11. Kepulauan Seribu : Pulau Tidung
12. Padang (Bukittinggi)
13. Hongkong : The Peak
14. Macau
15. Bogor : Kebun Raya Bogor, Curug Cigamea
16. Bandung : Kawah Putih Ciwidey, Sukawana (Offroad)
17. Semarang : Klenteng Sam Poo Kong, Pagoda Avalokitesvara
18. Bali

Bagi saya, banyak cara yang dilakukan manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan perjalanan adalah salah satunya :angel: apalagi jika bisa mengambil hikmah dari setiap perjalanan.

"maka tidak pernahkah mereka berjalan dibumi,sehingga hati (akal) mereka dapat memahami,telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta ,tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." ( QS Al-Hajj : 46)

1 Comment

Share This :

Ikhlas bukan berarti menyerah. Lebih tepatnya berserah kepada yang Maha Kuasa. Ketika keikhlasan sudah kita lakukan, maka semua tinggal menunggu kebaikan Tuhan. Cerita yang disadur dari sebuah milis forum bisnis ini semoga bisa menjadi cermin.

Cuaca hari itu sangat panas ketika Mbah Sarno mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan sebuah perumahan di kawasan Condong Catur Yogyakarta. Meski sudah renta, demi menyambung hidup, Mbah Sarno masih membanting tulang sebagai tukang sol sepatu keliling. Bisa ditebak bagaimana kehidupan Mbah Sarno yang bersahaja itu. Pendapatannya hanya cukup untuk makan hari itu. Bahkan kurang jika seharian tidak ada yang memakai jasanya.

Saat melintas di depan sebuah rumah mewah, Mbah Sarno dipanggil. Pelanggan pertamanya di siang itu. Seorang pemuda berusia sekitar 20-an tahun, terburu-buru membawa sepatu yang minta ditambal.

Saat Mbah Sarno menambal sepatu yang bolong, si pemuda itu seperti gelisah. Ia sering melihat jam tangannya sembari mengawasi Mbah Sarno yang bekerja. Karena sudah bekerja secara bertahun-tahun, maka dengan cepat Mbah Sarno pun merampungkan pekerjaannya.

"Berapa Pak," tanya si pemuda begitu Mbah Sarno menyorongkan sepatu yang sudah ditambal.

“Lima ribu rupiah mas”

Pemuda tadi lalu mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah Sarno jelas kaget karena baru memperoleh orderan pertama dan uang segitu terlalu banyak baginya.

"Wah, Mas, enggak ada kembaliannya nih. Ada uang pas?"

"Enggak ada Pak. Ini uang saya tinggal selembar," kata pemuda tadi sambil celingukan mencari warung untuk menukar uangnya.

Melihat kegelisahan pemuda tadi, Mbah Sarno langsung berkata, "Sudah enggak usah repot-repot Mas. Bawa dulu saja. Lain kali saya lewat sini lagi."

"Wah, terima kasih ya Pak." Pemuda tadi bergegas masuk ke rumah sambil menenteng sepatu yang sudah ditambal.

Mbah Sarno melanjutkan kayuhannya. Sore hampir tergelincir, dan Mbah Sarno belum memperoleh pelanggan lagi. Ia lalu berkata dalam hati, "Ikhlas. Insyaallah akan memperoleh ganti." Hanya itu yang bisa dilakukan sambil terus mengayuh pedal sepedanya.

Ketika saatnya salat Asar, Mbah Sarno pun mampir ke sebuah masjid di depan lapangan bola sebuah sekolah. Selesai salat ia berdoa. "Ya Allah, izinkan aku mencicipi secuil rezeki-Mu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendak-Mu.”

Selesai salat ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya. Saat akan menuju ke sepedanya, ia kaget karena pemua yang tadi siang menjadi pelanggannya sudah menunggu di samping sepedanya.

"Wah, kebetulan ketemu di sini Pak. Ini bayaran yang tadi siang," kata si pemuda itu sambil mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak selembar tapi lima lembar.

"Lo, Mas. Saya belum punya kembalian. Lagian ini juga lima lembar. Apa enggak salah?" Mbah Sarno sedikit gugup.

"Enggak salah Pak. Ambil saja semuanya. Kembaliannya sudah saya terima tadi. Hari ini saya tes wawancara. Makanya saya tadi terburu-buru. Untung ada Bapak yang bisa menambal sepatu dengan cepat. Telat lima menit saja bisa jadi saya gagal tes. Beruntung Bapak membiarkan saya pergi dahulu. Insyaallah, minggu depan saya berangkat ke Prancis Pak. Mohon doanya."

"Tapi ini terlalu banyak Mas."

"Saya bayar jasa Bapak lima ratus rupiah. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya dan keihklasan Bapak hari ini."

 

*Sumber : Agus Surono / Intisari-Online (6/12/2012)
*Pict : kompasiana

Share This :

Alif Laam Miim... menderu ditelingaku
Tak diam hatiku mencari makna
Allah telah sisipkan teka-teki Hijaiyah
Tak ada keraguan bagi petunjukNya

Bisakah keraguan akan diriku tak bergetar?
HambaMu ini belum teguh dirikan tiangMu
Pada perkara Bilghaibi... kasat mata! jadikan ku gamang
Ini mungkin penyebab rizkiMu belum puaskan aku

Layakkah aku mendapatkan petunjukMu
Seperti mereka-kaum sebelum aku
Membaca kitabMu temukan makna Ilahiyah
Sampai pada akhir dari segala akhir

Semoga aku menjadi beruntung mendapat petunjuk
Alif Laam Miim.......

*koelit ketjil
*picture : http://darulisra.org.uk/

2 Comments

Share This :

Pernah bermain layang-layang? Dulu saat saya kecil saya bermain layang-layang, tidak terlalu sering karena saya lebih suka maen gundu / kelereng :D tapi bermain layang-layang itu cukup berkesan. Entah kenapa tiba-tiba saya teringat layang-layang. Di ibukota ini, saya koq tidak pernah melihat layang-layang ya? Adanya cuma balon terbang, itupun untuk iklan. Akhir-akhir ini saya jadi sering bengong, saat ingat layang-layang saya jadi menghubungkan dengan kehidupan. Mungkin saya sudah error atau kebanyakan terkena radiasi komputer >.< Rasanya tulisan ini masih satu topik dengan tulisan saya sebelumnya yaitu Hadapi Hidup

Tahukan layang-layang?

Layang-layang dikendalikan menggunakan benang oleh tangan kita. Layang-layang untuk aduan, memerlukan benang yang kuat dan pengendali yang handal agar bisa menang. Untuk membuat layang-layang naik ke angkasa diperlukan tarik ulur benang disesuaikan dengan angin.
Ditarik.. Diulur..
Ditarik lagi... Diulur lagi...
Sampai terbang tinggi...

Layang-layang terbang kekiri atau kekanan, sesuai dengan keinginan sang pemain layang.
Layang-layang berputar, menukik naik turunpun karena keinginan pemaing layang.
Semakin tinggi layang-layang semakin panjang benang yang dibutuhkan dan tentu saja semakin kuat angin yang bertiup.

Layang-layang putus. Melayang tak tentu arah. Kemana angin bertiup, ia tidak memiliki pilihan apapun. Hanya terdiam mengikuti.. pasrah .. Layang-layang jatuh entah kemana, suka atau tidak suka layang-layang harus menerima untuk jatuh dimanapun dan resiko apapun yang dihadapi.

layang kehidupan

Begitu juga kehidupan....

Kita ini seperti layang-layang, dikendalikan oleh Tuhan. Mau kekiri mau kekanan, mau naik mau turun kita hanya bisa menjalaninya. Tuhan tahu kapan saatnya mengulur benang dan kapan saat menariknya. Tuhan menginginkan dan tahu yang terbaik untuk kita. Maka percayakan saja hidup ini kepada-Nya. Jangan sampai putus benangnya. Benangnya adalah iman dan taqwa. Itulah yang menghubungkan kita dengan Tuhan. Jika putus benangnya maka akan melayang tak tentu arah, mau kemana kita jika tak ada iman dan takwa.

Kita ini seperti layang-layang, semakin tinggi berada maka semakin kencang tiupan angin. Semakin tinggi posisi, ilmu, iman, taqwa, tanggung jawab juga semakin kencang cobaannya. Jangan lupa diri, dari mana kita berasal. Tak perlu gentar menghadapi berbagai persoalan, karena Tuhan selalu mengarahkan mata-Nya kepada kita, sama seperti pemain layang-layang memperhatikan yang ia terbangkan. Dan meski terombang-ambing rasanya, hidup kita ada dalam kendali-Nya. Percayalah.

Kita ini seperti layang-layang, jika angin tak berhembus, bagaimana mungkin layang-layang bisa terbang?  Biarkan angin kehidupan menerpa, hadapi dan jangan menghindar. Arahkan pandangan selalu kepadaNya, sebagaimana layang-layang di udara. Bahkan ketika benang itu putus dan layang-layang diterbangkan angin yang berhembus, Dia akan 'berlari' untuk mendapatkannya kembali. Selama kita masih dalam 'pandangan'-Nya tidak melenceng jauh. Namun apakah kita selalu menghadap-Nya? Masih adakah sisa-sisa benang itu, sehingga Tuhan akan berlari mengejar kita?

Kita ini seperti layang-layang, di akhir hari, Tuhan akan menggulung benang, mendekatkan kita kepada-Nya, lalu membawa kita pulang! (Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun)

Semoga hidupku terarah tidak seperti layang-layang terputus talinya, yang semakin jauh dari-Nya.

ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi
(Wahai Tuhanku, Engkau adalah tujuanku dan Ridho-Mu adalah yang ku harapkan)

"Tidaklah kalian mencapai kehendak kalian, kecuali Allah yang berkehendak yang mengatur alam semesta ini" (QS At Takwiir : 29)

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,  padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (QS. Al Baqarah : 216)

"Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu lengan, dan barang siapa mendekat kepada-Ku satu lengan maka Aku akan mendekat kepadanya dua lengan, dan jika ia menghadap kepada-Ku dengan berjalan maka Aku menemuinya dengan berlari”. (HR Bukhari-Muslim)

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"(sesungguhnya semua berasal berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya)"(QS. Al Baqarah :156)

*picture by :
- http://xenon-universe.blogspot.com
- http://www.anthonydiomartin.com

Share This :

huruf huruf berpentalan
alif sampai ya', kun!
Jadilah sampai

di sesak kamar
huruf huruf berputar
menemu celah pasrah, agar
segera tiba di Tuhan

huruf huruf berpentalan
membelah gelombang tawakkal
duhai, pinta ini selalu saja kekal
sementara bibir, tiada istirah
dari nikmat rapal
semakin kekal

huruf huruf berpentalan
tubuhnya berputaran
alif sampai ya', kun!
selembar doa menguntai
jadilah sampai!

*Alif Raung Firdaus (29/08/2012)
*picture : www.khtt.net

3 Comments

Share This :

Hidup ini punya beragam warna. Ada kesenangan ada kesedihan, ada kemudahan ada kesusahan, ada baik ada buruk. Karena Tuhan menghendaki dunia ini sebagai tempat bertemunya dua hal yang saling berlawanan, dua jenis yang saling bertolak belakang, dua kubu yang saling berseberangan dan dua pendapat yang saling berseberangan. Maka, kita harus menjalani hidup ini sesuai dengan kenyataan yang ada. Jangan larut dalam khayalan. Dan, hanya menerawang ke dalam imajinasi. Hadapi saja kehidupan ini apa adanya, kendalikan jiwa untuk dapat menerima dan menikmatinya. Bukan berarti saya sudah seperti itu, saya juga masih belajar karena hidup adalah proses pembelajaran.

Ada suatu cerita menarik saat saya jalan-jalan di hongkong kemarin (Jumat, 30-11-2012). Begitu tiba di penginapan (hostel) saya lihat ada seseorang pria china yang kebetulan adalah salah satu receptionist penginapan sedang berupaya memperbaiki coffee maker, diutak-atiknya alat tersebut agar bisa menyala namun tetap tidak ada hasil.Akhirnya si pria itu pun menyerah sambil berkata

"Ok, i'm sorry i give up. We can't drink coffee this morning"

Dan seorang perempuan bule yang sedari tadi makan roti sambil mengobrol dengan si pria china itu pun menyeletuk

"Hey..!!! Come on"

"Don't give up easily, Life is challenge"

Wowww,,, saya yang diam saja dari tadi merasa terkena pukulan kerasss... Plakkkk...!!! Saya tidak menyangka  di tempat seperti ini Tuhan masih mengingatkan saya untuk terus berjuang. Tidak dapat dipungkiri, bahwa kondisi saya saat ini sedang berada pada titik jenuh dan malas dengan segala sesuatu. Namun sepertinya Tuhan masih sayang kepada saya sehingga Dia memberi pelajaran untuk membuat saya tetap ingat dan terus berjuang sampai titik darah penghabisan. Entah mengapa, saat itu juga saya jadi ingat perkataan Romo RMP Sosrokartono

"Ing donya mung kebak kangelan, sing ora gelem kangelan aja ing donya" (Di dunia penuh dengan kesusahan, yang tidak mau susah jangan di dunia)

Dan tiba-tiba saya pun teringat perkataan kakek saya yang telah mewanti-wanti saya jauh-jauh hari sebelumnya.

"Hidup itu berat tapi harus dihadapi, karena itu persiapkan diri untuk menghadapinya. Belajarlah ilmu dunia untuk menghadapinya"

Kakek saya yang seorang ulama tasawuf menyuruh saya belajar ilmu dunia. Kenapa begitu? Waktu itu saya belum paham, apa maksud beliau menasihati seperti itu. Namun, pada ahkirnya saya harus sadar dan segera bergerak bahwa segala sesuatu itu harus di hadapai dan diperjuangkan...!!! Alhamdulillah. Alloh Yang Rahman dan Rahim masih mengasihi dan menyayangi saya dengan mengingatkan kembali arti perjuangan dan sabar. Ada sebuah perkataan arab populer yang saya ketahui :

1. Man Jadda Wa Jada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
2. Man Shobaro Zafiro (Siapa yang bersabar akan beruntung)
3. Man Saro Ala Darbi Washola (Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai)

Saya jadi kembali optimis saat menulis dan membaca tulisan ini lagi. Semoga juga begitu dalam pelaksanaannya ^_^  Tidak ada hal yang sulit jika kita mau berusaha dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas, yang penting ada kemauan dan ada kesungguhan. Ditambah dengan kesabaran. Bukan sabar yang pasrah tanpa berbuat apa-apa,  tapi sabar dalam beristiqomah untuk mencapai tujuan. Dan tak lupa segala sesuatu itu harus tertuju untuk-Nya dan harus berada di jalur-Nya.

Maha Suci Alloh, Terima kasih Alloh telah mengingatkan. Terima kasih romo, terima kasih kakek, terima kasih guru-guru.

Suma ila ruhi khususon mbah Taptozani... Al Fatihah
Suma ila ruhi khususon romo sosrokartono... Al Fatihah

 "Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. " (QS Ar Ra'd 11)

5 Comments

Share This :

Sudah lama saya ingin menulis tentang traveling yang saya lakukan. Saya dari dulu ingin sekali punya semacam travelouge gitu, kayaknya keren. Siapa tahu bisa jadi buku ya kan? :D Padahal di blogg ini saya sudah menyiapkan Categories dengan nama Traveling sejak lama, namun tetep saja gak ada isinya karena susah banget untuk mulai dan mendapatkan soul-nya >.< Kali ini saya mencoba untuk menuliskan sedikit oleh-oleh saya waktu ke Thailand kemarin. Di Thailand saya pergi ke daerah Phuket, yang buat orang indonesia lebih gampangnya disebut 'kuta'-nya Thailand. Padahal kalau menurut saya sih masih bagus kuta yang di Bali dan lebih bagus lagi kuta yang di Lombok. Saya beruntung sudah pernah ke sana semua :D

Phuket adalah sebuah pulau bagian tenggara Thailand, namanya adalah adaptasi dari bahasa Malay ‘bukit’ karena konturnya sebagian berupa bukit. Sebagai sebuah pulau, ia memiliki beberapa pantai di sisi barat menghadap Laut Andaman yang indah dengan pantai yang paling terkenal adalah Patong Beach, selain ada Kamala Beach, Karon, dan Kata Beach.

Kali ini tentang salah satu perjalanan saya waktu ke Phuket, yaitu ke Phi Phi Island. Dalam bahasa Thailand disebut Koh Phi Phi (‘Koh’ berarti pulau), sebenarnya terdiri dari 2 pulau: Koh Phi Phi Don yang lebih besar dan Koh Phi Phi Leh. Koh Phi Phi Don adalah base untuk menginap sedangkan Phi Phi Leh tidak perpenghuni namun setiap hari boleh didatangi. Sayangnya saya hanya mampir ke Koh Phi Phi Don. Dari Phuket perjalanan dilakukan menggunakan boat dan ditempuh sekitar 2 jam. Bukanlah waktu yang lama jika dibandingkan dengan antri busway transJ setengah jam >.< karena di sini disuguhi oleh keindahan pemandangan laut dan pulau-pulau kecil.


Pntu masuk Phi Phi Island dekat pelabuhan

Pantai di Koh Phi Phi Don ini indah banget, airnya biru bening. Dan di pulau ini ada orang muslimnya. Bahkan saya mampir sebentar ke masjid untuk sholat dzuhur plus ashar :D Pedagang yang berjualan di sekitar masjid, lumayan banyak juga yang memakai jilbab. Di pulau ini juga terdapat pemakaman untuk muslim. Untuk menuju masjid tidaklah sulit, karena telah ada papan penunjuk jalan. Kita tinggal berjalan saja mengikutinya.


Penunjuk jalan di Koh Phi Phi Don


Masjid Al Islah Koh Phi Phi

Di masjid ini saya bertemu seseorang, entahlah dari mana dia berasal. Dia bertanya saya dari mana, kemudian saya jawab dari Indonesia. Lalu dia mengeluarkan buku kecil dari saku celananya dan menunjukkan sebuah nama dan alamat disana. Saya baca buku kecil itu, ooohh,, ternyata itu adalah alamat Masjid Jami' Kebon Jeruk Jakarta. Tentu saja saya tahu masjid ini, karena dekat dengan kantor. Akhirnya saya ketahui bahwa ternyata bapak itu adalah salah satu anggota Jamaah Tabligh (JT). Pantesan tau masjid kebon jeruk, karena masjid kebon jeruk merupakan pusat organisasi JT di jakarta. Waahh.. Hebat juga JT, menyebar di mana-mana. Loh, kok jadi kesini arah tulisan ini, padahal ini kan tentang travelling >.< Inilih yang membuat saya kesulitan membuat sebuah travelouge *alasan* *pembenaran* :D

1 Comment

Share This :

Saat itu sudah tengah malam, sekitar jam 22:00 WITA. Hari itu kalau tidak salah ingat adalah hari ke lima saya berada di kota Mataram. Itu adalah pertama kali saya datang ke Lombok, yaitu pada akhir Januari 2009 seperti yang pernah saya tulis di Goes To Mataram. Waktu itu saya masih kuliah semester 7, dan saat itu juga saya kuliah sambil bekerja. Saya agak lupa, apakah obrolan ini terjadi setelah saya jalan-jalan ke senggigi bersama teman saya yang dilombok yaitu gus Fauzan, atau sebelumnya. Yang jelas saya tidak pernah bercerita tentang hal ini kepada dia :D

Tengah malam itu saya sedang berada di kamar hotel bersama seseorang yang saya sebut sebagai "Abang I" walaupun usianya tidak bisa dibilang muda. Beberapa minggu sesudahnya, baru saya ketahui bahwa beliau ternyata adalah seorang khalifah dari sebuah Tarekat. Ini adalah pertama kali saya tidur dihotel, lengkap dengan air hangat dan AC, benar-benar katrok >.< Entah bagaimana obrolan malam itu tiba-tiba berujung pada sesuatu yang 'indah' dan luar biasa menurut saya. Obrolan yang saya tulis ini tidak persis seperti saat itu, karena sudah lama dan saya agak-agak lupa bagaimana obrolan detailnya (maklum sudah berumur :P) namun tulisan ini tetap tidak meninggalkan esensinya.

"Mas zein, pernah dengar kisah tentang pelacur dan anjing?" begitu bang I mulai berdialog.

"Sepertinya saya pernah dengar pak" begitu jawaban saya antara ragu dan yakin sambil diam sejenak dan menggali memori. Saya pernah mendengar kisah ini dalam sebuah hadist saat ngaji. Kemudian Bang I pun tersenyum lalu diceritakanlah kisah tentang pelacur dan anjing tersebut untuk mengingatkan saya.

"Bahwa ada seorang wanita pelacur yang kehausan sedang berjalan di padang pasir yang kering dan gersang. Dia terus berjalan dan berjalan. Kemudian sampailah wanita itu di tepi sumur. Lalu diambillah air dari sumur itu, saat akan minum tiba-tiba datanglah seekor anjing yang juga kehausan dan hampir mati. Anjing tersebut mengendus kaki wanita itu dan wanita itu pun menoleh ke arah anjing tersebut, dan langsung memberikan minumnya ke anjing. Alloh mengampuni dosa wanita itu dan memasukkannya ke surga." Bang I mengakhiri kisah tersebut, kemudian bertanya kepada saya.

"Apa yang menyebabkan Alloh mengampuni dosa wanita itu?"
"Karena dia ikhlas?" jawab saya setengah yakin dan bertanya.
"Benar, namun masih ada lagi yang lebih penting dan utama"
"Mmmmm... apa ya..??? Nyerah pak!"
"Karena mas zein sekolah jurusan informatika sepertinya lebih asik kalau kita bermain logika dan hitung-hitungan. Hehehe..."

Saya pun cuma bengong aja, selain bingung apa maksud perkataan bang I, saya juga bingung mau ngomong apa. Bang I pun tertawa melihat saya kemudian mengambil spidol sambil berjalan ke arah cermin. Dan ia pun mulai menuliskan sesuatu disana.

"Mas zein tau bilangan tak hingga(∞)?"
"Iya tahu pak"
"Angka berapapun di bagi tak hingga hasilnya 0 (nol) kan?"
"Iya"
"Bagus, mari kita mulai." Bang I pun mulai membuka spidol dan menuliskan sesuatu di depan cermin.
"Apakah 10/10 = 1 ?" Bang I kembali bertanya.
“Ya” Jawab saya.
"10/100 = 1/10" ; “Ya”
"10/10.000 = 1/1000" ; “Ya”
"1 / ∞ (tak hingga) hasilnya berapa?" ; "Nol (0)"
"1000.000 / ∞ hasilnya?" ; "Nol (0)"
"Berapa saja + Apa saja /∞ = 0" ; “Ya”
"Nah sekarang kita akan masuk ke bagian yang penting. Masih bisa mengikuti kan mas zein?"

Bang I tersenyum kepada saya, dan saya hanya mengangguk saja sambil memperhatikan angka-angka yang ditulisnya di cermin. Saya seperti sedang belajar matematika. Dan saya masih belum mengerti, kenapa beliau menuliskan angka-angka tersebut.Namun sepertinya pertanyaan itu akan segera terkuak.

"Dosa / ∞ = 0 ?"
“Mmm,,, iyyaa” jawab saya ragu-ragu sambil berpikir, karena ini sudah masuk wilayah variabel. Bukan lagi angka.
"Kenapa ragu mas zein? Apapun dibagi ∞ (tak hingga) itu hasilnya 0"
“Nah… mas zein pasti tau tentang ayat yang menyebutkan bahwa kebaikan seberat biji zarah yang berarti kecil sekali akan di balas oleh Alloh. Kalau dalam kimia maka zarah diibaratkan atom. Mari kita lanjutkan"

Saya hanya mengangguk, sambil mengingat proton electron dan neutron >.< dan Bang I malanjutkan kembali coretan-coretannya. Saya mulai menangkap maksud dari coretan-coretan itu dan akan ke arah mana diskusi ini. Saya semakin bersemangat...

"1 x ∞ = ∞" ; "Ya"
"½ x ∞ = ∞" ; "Ya"
"1 zarah x ∞ = ∞" ; “Ya”

"Lihatlah, walaupun kebaikan wanita itu hanya 1 zarah, tapi melibatkan sesuatu yang tak hingga maka menghasilkan sesuatu perbuatan yang tak hingga pula pahalanya. Dosa-dosanya yang berat itu bukanlah sesuatu yang besar dibandingkan ampunan Alloh yang tak hingga. Langsung lebur di hantam kekuatan tak hingga"

"1 zarah x ∞ = ∞"
"Dan, Dosa / ∞ = 0"
"Jadi nol (0) mas zein, itulah rahasianya hehehe"
"Waaaaahh... iya ya.. logic pak logic...!!!"
"Islam itu ilmiah mas zein asal kita tau ilmunya"
"Lalu, apakah kekuatan tak hingga itu pak? Bagaimana agar saya bisa menggandeng kekuatan yang Tak hingga itu?"
"Nanti mas zein, jika sudah waktunya akan dapat jawabannya. SABAR!"

Mendengar jawaban itu saya tertawa dan bang I pun tertawa. Tawa kami bukan tawa karena kelucuan, tapi tawa kegembiraan. Sebuah tawa pencerahan. Yang pasti saya sangat gembira sekali malam itu. Dua hari setelah itu, seharusnya saya pulang ke Malang. Tapi akhirnya diputuskan untuk ditunda. Padahal tiket sudah dibeli, tiket itu sengaja dihanguskan untuk menunda kepulangan. Akhirnya saya harus beli tiket baru. Saya ingat hari itu adalah hari kamis, dan saya dibawa ke sebuah pondok di Lombok Tengah, daerah kediri namun masih terus ke tengah. Disana saya mendapat penjelasan tentang "tak hingga (∞)".

Maha Suci Alloh, Terima kasih Alloh telah memberikan sebuah perjalan yang tak terlupakan. Terima kasih bang I, terima kasih pak bos, terima kasih guru-guru.

Dari Abi Hurairah r.a. dari Rasulullah saw berabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, “Anjing ini hampir mati kehausan”. Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum. (HR Bukhari)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS Al Zalzalah 7-8)

Hadist Rasulullah SAW : "Al islamu ilmiyun wa a'maliyun" dan "Al islamu ya'lu walaa yu'la alaih" . Islam itu ilmiah dan amaliyah. dan Islam itu amat tinggi dan tiada yg melebihinya.

Yaa Allah… Ajari aku ilmuMu…
Rahmati, Ridhoi serta cahayai di setiap gerakku…
Khusukkan ibadahku…
Ampuni semua salahku, keluargaku, kedua orangtuaku serta para sahibku…
Al-Fatihah

*picture by : http://victorraseisenheim.deviantart.com/

2 Comments

Share This :

Saya tersentak saat membaca berita bahwa ada pembobolan server Bank Mandiri. Bagaimana tidak, sebuah bank besar yang seharusnya sisi keamanannya sangat mature kenapa bisa bobol juga. Apakah Tata Kelola Keamanan Informasi nya tidak terimplementasi dengan baik? Dan ternyata penyebabnya sangat sepele. Walaupun sebabnya ada beberapa namun yang paling menggelitik adalah penggunaan password yang umun, tidak secure, unhardened password, yaitu angka "123456" dan itu digunakan untuk Remote Desktop. What the hell..!!! Memang yang membobol orang dalam. Dan terbukti bahwa penyebab kebobolan paling rawan adalah internal user.

Penyebab kebobolan tersebut memang paling sering terjadi, seperti yang banyak disebutkan dalam CISA (Certified Information Systems Auditor) ataupun CISSP (Certified Information Systems Security Professional) yaitu :
1. Employees Dissatisfied
2. Default Password
3. Segregation of Duties
4. Access Control

Yang masih membuat saya penasaran adalah bagaimana digital forensik nya? Kereeen... sepertinya itu ilmu yang mahal. Berikut ini beritanya, dan bisa digunakan untuk pelajaran, case study dan latihan analisa ;)

-- 2 Pegawai Bank Mandiri Didakwa Bobol Rekening Rp 5,9 M --

Jakarta - Dua pegawai Bank Mandiri nekat membobol sistem bank dan mengambil uang Rp 5 miliar. Mereka kini harus duduk di kursi terdakwa Pengadilan Tipikor Jakarta.

Kedua terdakwa adalah Syofrigo, pegawai Bank Mandiri Pusat Regional Network Grup sebagai sign officer management information system dan Mohammad Fajar Junaedi, pegawai Bank Mandiri cabang Bogor Juanda sebagai verifikator.

Dalam dakwaan dijelaskan, Syofrigo bertemu Fajar pada November 2011. Mereka membicarakan cara mencari tambahan penghasilan. Alasan kekecewaan terhadap manajemen juga melatarbelakangi rencana membobol duit bank.

"Terdakwa I juga menceritakan mengenai kekecewaannya dengan perlakuan pihak manajemen di Regional Network Group di kantor pusat. Ternyata terdakwa juga mengalami kekecewaan dengan perlakuan manajemennya," kata jaksa penuntut umum, Immanuel Richendry Hot di Pengadilan Tipikor, Jalan HR Rasuna Said, Jaksel, Rabu (24/10/2012).

Pada bulan Januari 2012, Syofrigo bertemu dengan Fajar dan menceritakan cara mendapatkan tambahan penghasilan dengan cara memanfaatkan kelemahan sistem transaksi di Bank Mandiri.

"Terdakwa I (Syofrigo) memberikan gambaran cara untuk membobol sistem transaksi di Bank Mandiri yaitu masuk ke server dan melakukan posting dengan kode transaksi. Dengan cara itu bisa mengambil uang dari rekening Bank Mandiri," terang Immanuel.

Keduanya membagi tugas. Syofrigo melakukan pemindahbukuan dari rekening Mandiri dan Fajar menentukan target, jumlah uang yang akan diambil dan mencari nomor rekening yang akan dijadikan untuk menampung uang.

Pada 8 Februari 2012, Syofirgo mencoba masuk ke server back up Mandiri cabang Jambi. Syofirgo masuk ke program Remote Dekstop dengan menggunakan komputer di kantor Bank Mandiri pusat. Setelah muncul tampilan login Branch Delivery System, Syofirgo memasukan kode cabang ditambah nomor 50 dengan 60 pada kolom user name dan mengetikkan 123456 pada kolom password untuk pengetikan kode cabang pada kolom user name.

"Ternyata berhasil masuk ke BDS Bank Mandiri cabang Jambi. Terdakwa I kemudian mencari nomor rekening yang akan digunakan untuk menampung pemindahbukuan dana dari Mandiri Jambi dengan melakukan pemantauan rekening," terang jaksa.

Syofirgo menemukan rekening atas nama Joni di Bank Mandiri cabang Probolinggo yang dijadikan penampung uang. "Selanjutnya dengan melawan hukum, terdakwa I (Syofirgo) memindahbukukan dana Rp 5.922.500.000," sebut Immanuel.

Uang di rekening Joni kemudian dipindahbukukan lagi ke rekening Donny Cahyadi Foeng. Terdakwa Fajar langsung membelikan 115 emas batangan atau seberat 11,5 kg dari uang tersebut.

Syofirgo mendapat bagian 52 keping emas atau seberat 5,2 kg, sementara Fajar mendapat 57 keping seberat 5,7 kg. Sisanya tiga keping emas lebih dulu dijual dan 3 lainnya diberikan kepada orang lain.

Dalam dakwaan primer, kedua terdakwa dijerat Pasal 2 ayat 1 UU Pemberantasan Tipikor. Dakwaan subsisder Pasal 3 jo Pasal 18 ayat 1 UU Pemberantasan Tipikor dan subsider kedua, Pasal 3 jo Pasal 10 UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Usai persidangan jaksa Immanuel menjelaskan perkara ini disidang di Pengadilan Tipikor karena Bank Mandiri adalah BUMN. "Kerugian Bank Mandiri akibat pembobolan harus diganti menggunakan uang negara," katanya.

*Sumber berita : Ferdinan / detikcom (Rabu, 24/10/2012 20:09 WIB)
*Certified Information Systems Auditor

4 Comments

Share This :

Ngelmu Pring, kalau dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya Falsafah Bambu. Ngelmu Pring ini merupakan sebuah puisi bahasa jawa yang sangat luar biasa dari Romo Sindhu (Dr. Gabriel Possenti Sindhunata) seorang pendeta katolik yang juga seorang penulis dan pernah menjadi wartawan. Ngelmu Pring muncul di bukunya yang berjudul Air Kata Kata. Sesuai dengan judulnya, puisi ini maknanya sangat bagus dan dalam, terutama tentang pengupasan diri.  Ngelmu Pring berisi tentang bambu dan segala manfaatnya dalam kehidupan bagi manusia, intinya semua yang ada pada bambu ada manfaatnya, begitupun manusia seharusnya bisa mencontoh tanaman bambu. Pada Ngelmu Pring banyak membahas tentang bagaimana seharusnya manusia itu bersikap dan bagaimana manusia itu harus ingat. Ingat terhadap dirinya, ingat kepada sesamanya, ingat  kematiannya, dan ingat Tuhannya.

pring padha pring
eling padha eling
eling dhirine
eling pepadhane
eling patine
eling Gustine

Romo sindhu pun, membandingkan antara bambu dengan manusia. Bahwa manusia itu seyogyanya bisa seperti bambu. Bisa bermanfaat buat orang lain. Bambu itu cuma rumput, tapi manfaatnya banyak sekali, itulah namanya falsafah bambu, jadilah seperti bambu, seperti tidak punya apa-apa, namun karena tidak punya apa-apa bisa menjadi apa saja, seperti bambu.

Pring iku mung suket
Nanging gunane akeh bangeth
yaiku jenenge ngelmu pring
dadia kaya pring
prasaja ora duwe apa-apa
ning merga ora duwe apa-apa
bakal bisa dadi apa-apa
kaya pring

Satu lagi sebuah bait yang menarik menurut saya adalah tentang perbandingan antara jenis-jenis bambu dengan manusia. Bambu terdiri dari bermacam-macam jenis, namun demikian ia teteplah bambu. Demikian pula dengan manusia.

Pring ori, urip iku mati
Pring apus, urip iku lampus
Pring petung, urip iku suwung
Pring wuluh, urip iku tuwuh
Pring cendani, urip iku wani
Pring kuning, urip iku eling

Oleh rotra, seorang penyanyi hiphop asal yogjakarta yang tergabung dalam JHF (Java Hiphop Foundation), bait puisi tersebut dimaknai sebagai berikut

pring ori, urip iku mati…. kabeh sing urip mesti bakale mati
(Bambu ori, Hidup itu Mati, semua yang hidup pasti akan mati)
pring apus, urip iku lampus….. dadi wong urip aja seneng apus-apus
(Bambu apus, Hidup itu omong kosong, jadi orang hidup jangan suka berbohong)
pring petung, urip iku suwung…. sanajan suwung nanging aja padha bingung
(Bambu petung, Hidup itu kosong/hampa, meskipun hampa namun jangan bingung)
pring wuluh, urip iku tuwuh… aja mung embuh, ethok-ethok ora weruh

(Bambu wuluh, hidup itu pelajaran, jangan sampai tidak mau tau dan pura-pura tidak tau)
pring cendani, urip iku wani… wani ngadepi, aja mlayu marga wedi
(Bambu cendani, hidup itu berani, berani menghadapi jangan lari karena takut)
pring kuning, urip iku eling…. wajib padha eling, eling marang Sing Peparing

(bambu kuning, hidup itu ingat, wajib pada ingat, ingat sama Sang Pencipta)

Membaca tiga bait diatas saya jadi ingat Raden Mas Panji Sosrokartono (semoga Alloh merahmatinya. Al-Fatihah), yang memiliki julukan Jaka Pring yang terkenal dengan lambangnya "Sang Alif" dan konon katanya merupakan salah seorang guru spiritual Bung Karno. Berkaitan dengan Ngelmu Pring ini, saya Rasa Romo Sindhu pun terinspirasi oleh Raden Sosrokartono. Salah satu yang diajarkan oleh Raden Sosrokartono adalah juga tentang ilmu bambu. Raden Sosrokartono pernah menuliskannya seperti ini:

“Pring padha pring, Weruh padha weruh, Eling tanpa nyanding.”

Artinya, “Bambu sama-sama bambu, tahu sama-sama tahu, ingat tanpa mendekat.”

“Susah padha susah; seneng padha seneng; eling padha eling; pring padha pring.”

Artinya, “Susah sama-sama susah; senang sama-sama senang; ingat sama-sama ingat; bambu sama- sama bambu.”

Pohon bambu adalah pohon yang sekujur tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang berkepentingan dengannya. Pohon Bambu dapat dimanfaatkan untuk membuat rumah, mulai dari tiang, atap, dinding, pagar, sampai atap-atapnya. Bukankah orang-orang dahulu menjadikan daun bambu sebagai genteng rumah mereka? Ranting-rantingnya dapat dijadikan kayu bakar atau pagar. Bambu dapat digunakan untuk membuat balai-balai, sangkar, keranjang, tempayan, tembikar, kursi, dll. Cikal bakal dari pohon bambu dapat dimanfaatkan untuk sayur/dimakan. Yang jelas, semuanya dapat dimanfaatkan, semuanya dapat difungsikan atau dibutuhkan sesuai kehendak orang yang bersangkutan.

Satu hal lagi, jenis bambu itu bermacam-macam. Sesuai dengan hajat seseorang dalam memfungsikan bambu, maka ia mempunyai pilihan terhadap jenis bambu yang mana ia butuhkan. Apakah bambu pethung, bambu ori, bambu wuluh, bambu apus dan lain sebagainya.

Kutipan di atas juga mengutarakan bahwa, apapun jenis kita, bangsa kita, agama kita, ras, warna kulit, perbedaan bahasa dan suku kita, kita tetap sama, sama-sama tahu, sama-sama manusia.
Apapun jenis, warna dan bentuknya bambu, tetap bambu. Tak ada perbedaan, semua sama belaka. Manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah sama. Seperti ketika beliau melakukan perjalanan ke luar Jawa, kemudian beliau bertemu oleh sekian jenis manusia dengan status sosial yang berbeda. Bagi beliau, semua manusia disejajarkan. Sikap egalitarisme tetap dijaga dan dilestarikan.

Dalam kondisi dan situasi bagaimanapun dan di manapun, ingat akan keterciptaan, teringat akan sesama, saling mengingatkan dan ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pemurah. Ketika manusia itu ingat kepada Tuhannya, maka Tuhanpun akan ingat kepadanya.

Mungkin itu yang dapat saya tulis tentang Ngelmu Pring. Berikut ini adalah puisinya secara penuh :

Pring reketeg
gunung gamping jebol
susu mentheg-mentheg
bokong gedhe megal-megol

pring padha pring
eling padha eling
eling dhirine
eling pepadhane
eling patine
eling Gustine

Pring iku deling
tegese kendel lan eling
Pring padha pring
eling padha eling
Pring iku suket
dhuwur tur jejeg

Pring reketeg
gunung gamping jebol
susu mentheg-mentheg
bokong gedhe megal-megol

Pring ori, urip iku mati
Pring apus, urip iku lampus
Pring petung, urip iku suwung
Pring wuluh, urip iku tuwuh
Pring cendani, urip iku wani
Pring kuning, urip iku eling

Pring padha pring
Eling padha eling
Eling dirine
Eling pepadhane
Eling pathine
Eling gustine

Pring iku mung suket
Ning kabeh asale seko saka pring
kepang asale seko pring
Sajen asale pring
Lincak asale pring
Pager asale pring
Usuk asale pring
Cagak asale pring
Gedhek asale pring
Tampar asale pring
Kalo asale pring
Tempah asale pring
Serok asale pring
Tenggok asale pring
Tepas asale pring
Pikulan asale pring
Walesan pancing asale pring
Jangan bung asale pring
Bunthel genbus asale pring

Wong urip asale pring
Uripe kudu eling
Matine digothong nganggo pring
Muleh asale ing ngisor pring
pring padha pring
eling padha eling
eling dhirine
eling pepadhane
eling patine
eling Gustine

Pring iku mung suket
Nanging gunane akeh bangeth
yaiku jenenge ngelmu pring
dadia kaya pring
prasaja ora duwe apa-apa
ning merga ora duwe apa-apa
bakal bisa dadi apa-apa
kaya pring

Pring reketeg
gunung gamping jebol
susu mentheg-mentheg
bokong gedhe megal-megol
susune sopo sing menthe-mentheg
susune pring
bokonge sapa sing megal megol
bokonge pring
pring susu pring bokong
pring iku ibu sing momong

Pring reketeg
gunung gamping jebol
susu mentheg-mentheg
bokong gedhe megal-megol

ora gampang tugel merga melur
pring kena dienggo mikul
barang sing abot
pikulen bot repoting uripmu
nganggo pring tegese, aja kaku uripmu
melura, pasraha, baumu
bakal bisa nyangga kabeh sanggane uripmu

Pring reketeg
gunung gamping jebol
susu mentheg-mentheg
bokong gedhe megal-megol

Pring iku gampang tuwuh
lemahe bera lemahe subur
mangsane garing mangsane rendheng
pring iku terus modot
nyuwara kemresek lan kemlethek
pucuke mbedhah clumpringe
kang mbebed lan wuled
ing mbengi pinuju sepi

swarane kemrenyes merak ati :
aja nggresula aja sedhih
dudu kowe ning Gusti
sing bakal nuwuhake, nggedhekake,
nyempulurake uripmu tanpa kowe ngerti
ngerti-ngerti kowe wis ketiban rejeki
cukup sandhang cukup pangan mukti pakarti

Pring reketeg
gunung gamping jebol
susu mentheg-mentheg
bokong gedhe megal-megol

njerone pring iku bolong tanpa isi
nanging bolong iku ngemu isi
yaiki sejatining ngelmu pring :
golekana isine wuluh wung wang
dadio isi sajroning suwung

pring padha pring
eling padha eling
eling dhirine
eling pepadhane
eling patine
eling Gustine