Monthly Archives: April 2013

5 Comments

Share This :

Kenapa HATI? Karena semua bersumber dari sana.

Suatu ketika, saya melakukan sholat sunnah Istikharah untuk meminta petunjuk. Dan setelah itu saya mendapatkan mimpi yang tidak masuk akal, dan jika di telan mentah-mentah tentulah itu hal yang tidak sesuai dengan syari'at Islam.

Di dalam mimpi itu saya sedang berbincang-bincang entah lah dengan siapa. Disitu kemudian orang tersebut bilang "Amal yang pertama kali di hisab adalah sholatnya" Dan spontan dalam diri saya ada sesuatu yang berteriak dan berkata "TIDAK...!!! Yang dilihat Alloh adalah hatinya...!"  Seketika itu juga saya terbangun dan berkeringat seperti kecapekan.

Saya membatin, astaghfirulloh... Mimpi apaan ini? Gak bener. Karena seketika itu juga saya ingat betul tentang Fiqih Sholat.

Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Bilamana shalat seseorang itu baik maka baik pula amalnya, dan bilamana shalat seseorang itu buruk maka buruk pula amalnya.” (HR. Ath-Thabarani)

Sesungguhnya pertama kali yang dihisab (ditanya dan diminta pertanggungjawaban) dari segenap amalan seorang hamba di hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka beruntunglah ia dan bilamana shalatnya rusak, sungguh kerugian menimpanya.” (HR. Tirmidzi)

cleaning_heart

Lama saya merenung, dan mencari-cari maksud dari mimpi ini. Akal saya tidak bisa menerimanya, Namun sejak mimpi  ini muncul, bukan berarti saya lantas meninggalkan sholat. Saya tetap melaksanakan seperti biasa. Abah pun berpesan bahwa "Tetap sholat, jangan aneh-aneh". Yah, sepertinya saya belum diperbolehkan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai hal ini.

Sebulan kemudian, saya bermimpi kembali. Saya ada di suatu tempat seperti sebuah jalan yang panjang dan berkelok-kelok. Jalan itu menanjak naik. Banyak orang yang berjalan disana. Kemudian saya melihat sebuah kerumunan orang sedang mebersihkan sebuah lobang. Saya pun berjalan kesana, dan ikut membantu membersihkan lubang tersebut karena penuh lumpur. Lubang itu dibersihkan dengan air. Orang-orang bergotong royong membersihkan lobang itu termasuk saya. Tak lama kemudian muncullah sosok yang sepertinya saya tahu. Beliau adalah Gus Candra Malik (saya bertemu sekali dengan beliau yaitu di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail). Saat saya sedang membersihkan lobang itu, gus candra malik berkata kepada saya "Kamu tahu apa makna dari membersihkan lobang dari lumpur ini?" Spontan saya menjawab "Iya, ini sama seperti membersihkan hati" Gus Candra Malik tersenyum dan pergi. Dan saya lihat lobang yang awalnya kotor itu mulai agak bersih dan terlihat warna keperakan di pinggir-pinggirnya. Kemudian saya pun terbangun.

Setelah beberapa lama, akhirnya saya menemukan apa maksud dari mimpi itu. Sangat lama sekali saya bisa mencernanya. Sejak dua mimpi itu muncul, banyak kejadian-kejadian yang berhungan dengan hati. Entah itu obrolan tentang hati, tulisan tentang hati, ceramah tentang hati. Pokoknya segala sesuatu tentang hati. Kalau sudah seperti itu saya cuma bisa tersenyum dan membatin "Alhamdulillah, Alloh sedang mengajariku" Saya merangkai semua kejadian-kejadian itu dengan sebuah pertanyaan. Dan kebimbangan itu terjawab dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang dilandasi dari kejadian yang saya alami, pengetahuan yang saya dapatkan dan dari tulisan saya tentang sabar dan sholat (Hikmah Bawang). Pertanyaannya  adalah  :

SHOLAT YANG SEPERTI APA? SHOLAT UNTUK APA? SHOLAT UNTUK SIAPA?

Pertanyaan itu lebih luasnya juga ditujukan untuk ibadah-ibadah yang lain.

IBADAH YANG SEPERTI APA? IBADAH UNTUK APA? IBADAH UNTUK SIAPA?

Kesimpulan yang didapatkan, tertuang dalam sebuah syair :
Tidak Ku lihat shalatmu....
Tidak Ku lihat sedekahmu...
Tidak Ku lihat amalanmu...
Kecuali HATIMU yang Ku lihat....

Untuk apa sholatmu jika tak pake HATI
Untuk apa sedekahmu jika tak pake HATI
Untuk apa amalanmu jika tak pake HATI

Dan yang tau HATI seseorang adalah si pemegang HATI dan ALLAH sang pemilik HATI.....

 

“Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah bersabda: 'Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian'“(HR. Muslim 2564/33).

"Innallaha alimun bizatissudur .... 'Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati'". (QS Ali Imran, 119)

*picture by : http://www.haikudeck.com/

Share This :

Yang dimaksud dalam perencanaan SMKI (Sistem Manajemen Keamanan Informasi) / ISMS (Information Security Management System) dalam ISO 27001 adalah menetapkan kebijakan SMKI, sasaran, proses dan prosedur yang relevan untuk mengelola risiko dan meningkatkan keamanan informasi agar memberikan hasil sesuai dengan keseluruhan kebijakan dan sasaran. Hal ini dalam ISO 27001 terdapat pada klausul 4.2.1.

PDCA

Menetapkan SMKI ini masih berada di tahap PLAN dalam rangkain PDCA (Plan - Do - Check - Act). Pada proses penetapan SMKI ini perusahaan / Organisasi harus melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:
Tahap 1 : Menentukan ruang lingkup ISMS
Tahap 2 : Menentukan kebijakan (tujuan dan sasaran)
Tahap 3 : Menentukan cara penilaian risiko
Tahap 4 : Identifikasi risiko
Tahap 5 : Analisa dan evaluasi risiko
Tahap 6 : Identifikasi dan evaluasi pilihan penanganan risiko
Tahap 7 : Memilih objektif kontrol dan kontrol

 

TAHAP 1
Menetapkan ruang lingkup dan batasan SMKI sesuai dengan karakteristik bisnis, organisasi, lokasi, aset dan teknologi, dan termasuk rincian dari setiap pengecualian dan dasar justifikasi untuk setiap pengecualian dari ruang lingkup

TAHAP 2
Menetapkan kebijakan SMKI sesuai dengan karakteristik bisnis, organisasi, lokasinya, asset dan teknologi yang:
1) Mencakup kerangka kerja untuk menyusun sasaran dan menetapkan arahan dan prinsip tindakan secara menyeluruh berkenaan keamanan informasi;
2) Mempertimbangkan persyaratan bisnis dan hukum atau regulator, dan kewajiban keamanan sesuai kontrak;
3) Selaras dengan manajemen risiko strategis organisasi dalam konteks penetapan dan pemeliharaan SMKI yang akan dilaksanakan;
4) Menetapkan kriteria terhadap risiko yang akan dievaluasi (lihat Tahap 3); dan
5) Telah disetujui oleh manajemen.

TAHAP 3
Menetapkan pendekatan asesmen risiko pada organisasi
1) Mengidentifikasi suatu metodologi asesmen risiko yang sesuai dengan SMKI, dan keamanan informasi bisnis yang teridentifikasi,dan persyaratan hukum dan perundang-undangan.
2) Mengembangkan kriteria untuk menerima risiko dan mengidentifikasi tingkat risiko yang dapat diterima.
Metodologi asesmen risiko yang dipilih harus memastikan bahwa asesmen risiko memberikan hasil yang dapat dibandingkan dan direproduksi.

TAHAP 4
Mengidentifikasi risiko
1) Mengidentifikasi aset dalam ruang lingkup SMKI dan pemilik-pemilik aset.
2) Mengidentifikasi ancaman-ancaman terhadap aset
3) Mengidentifikasi kelemahan yang mungkin dieksploitasi oleh ancaman
4) Mengidentifikasi dampak hilangnya kerahasiaan, integritas dan ketersediaan dari aset.

TAHAP 5
Menganalisis dan mengevaluasi risiko.
1) Mengases dampak bisnis bagi organisasi yang mungkin berasal dari kegagalan keamanan, yang mempertimbangkan konsekuensi hilangnya kerahasiaan, integritas atau ketersediaan aset
2) Mengases kemungkinan terjadinya kegagalan keamanan yang realistik, berkenaan dengan ancaman dan kelemahan, dan dampak yang terkait dengan aset serta pengendalian yang diterapkan saat ini.
3) Memperkirakan tingkat risiko.
4) Menetapkan apakah risiko dapat diterima atau memerlukan perlakuan dengan menggunakan kriteria untuk risiko yang dapat diterima sebagaiman ditetapkan dalam Tahap 3 point 2.

TAHAP 6
Mengidentifikasi dan mengevaluasi pilihan perlakuan risiko
Tindakan yang mungkin mencakup:
1) penerapan pengendalian yang tepat;
2) penerimaan risiko secara sadar dan objektif, jika risiko tersebut memenuhi kebijakan organisasi dan kriteria risiko yang dapat diterima(lihat Tahap 3 point 2);
3) pencegahan risiko; dan
4) pengalihan risiko bisnis terkait kepada pihak lainnya seperti pihak asuransi, pemasok.

TAHAP 7
Memilih sasaran pengendalian dan pengendalian untuk perlakuan risiko.
Sasaran pengendalian dan pengendalian harus dipilih dan diterapkan untuk memenuhi persyaratan yang diidentifikasi melalui proses asesmen risiko dan proses perlakuan risiko. Pemilihan ini harus mempertimbangkan kriteria risiko yang dapat diterima (lihat Tahap 3 point 2) dan juga persyaratan hukum, perundang-undangan dan persyaratan kontrak.

a. Memperoleh persetujuan manajemen terhadap risiko residu yang diajukan.
b. Memperoleh kewenangan manajemen untuk menerapkan dan mengoperasikan SMKI.
c. Menyiapkan pernyataan pemberlakuan. Pernyataan pemberlakuan harus disiapkan yang mencakup sebagai berikut:
1) Sasaran pengendalian dan pengendalian yang dipilih dalam Tahap 7) dan alasan-alasan pemilihannya;
2) Sasaran pengendalian dan pengendalian yang diterapkan saat ini (lihat tahap 5 point 2); dan
3) Pengecualian setiap sasaran pengendalian dan pengendalian dalam Lampiran A dan dasar justifikasi untuk pengecualiannya.

Share This :

"ALAM TERKEMBANG MENJADI GURU."
(Syaikh Yusuf Sanggabuana Al-Pagarruyungi Al-Minangkabawi)

Marilah kita perhatikan kehidupan Pohon Pisang. Jika hari ini ditebang, besok ia tumbuh kembali... walaupun ditebang ribuan kali, ia tetap tumbuh lagi.... kecuali jika ia telah menghasilkan buah (berbuah).

Salah satu 'ibarah (pelajaran) yang diberikan Allah SWT kepada umat-Nya melalui kehidupan Pohon Pisang adalah bahwa, dalam rangka perjuangan suci mewujudkan cita-cita luhur (visi)nya, ia pantang menyerah terhadap halangan-rintangan dan tantangan yang menghadang, serta pantang mati sebelum dirinya memberikan manfaat optimal memenuhi misi hidup yang Allah tetapkan atas dirinya dan sebelum tunas muda yang benar-benar siap melanjutkan perjuangan sucinya dilahirkan (regenerasi). Bagaimana denganmu... wahai Tunas-tunas muda? Persiapkanlah dirimu....... Janganlah engkau mati sebelum menghasilkan buah yang ranum, matang dan manis rasanya.