Monthly Archives: September 2013

1 Comment

Share This :

Pada tulisan ini saya ingin mengajak untuk melihat kehidupan di Jakarta. Banyak sekali kehidupan yang bisa di temui saat kita melakukan penyusuran di jalan-jalan Jakarta. Jakarta tidak semewah dan semegah yang saya kira. Walaupun banyak gedung-gedung tinggi nan kokoh, namun masih terdapat juga perkampungan warga miskin. Walaupun terdapat banyak apartemen, namun juga tak sedikit warga yang tinggal di pinggiran sungai bahkan di bawah kolong jembatan.

Kehidupan Jakarta ada yang glamour, ada kemacetan, ada juga perjuangan dalam mencari rizki. Ada pula kehidupan lain yang sering di temui yaitu kehidupan orang-orang yang hidup di Kolong Jembatan Layang dan orang-orang yang hidup bersama dengan gerobak. Saya bingung juga untuk mencari kata yang pas dalam menggambarkan mereka. Sebut saja mereka dengan "Manusia Kolong Jembatan" dan "Manusia Gerobak", semoga tidak ada yang tersinggung. Silahkan di kritik dan memberi masukan jika menemukan istilah yang lebih tepat.

kolong_jembatan-layang

Saat melewati jalanan di Jakarta saya sering melihat keberadaan manusia gerobak, mereka sering saya temui di daerah Cikini dibawah jembatan rel Kereta Api. Saya juga sering melihat di samping Masjid Istiqlal. Selain itu di daerah Grogol dan Kampung Melayu bisa di temui sebuah kumpulan manusia yang tinggal di kolong jembatan ataupun jembatan layang layang. Entahlah, saya juga tidak tahu ada berapa kepala keluarga disana. Mereka tidur beralaskan kardus bekas atau triplek bahkan kadang-kadang terdapat potongan terpal maupun sisa-sisa spanduk. Ada juga sih yang spring bed yang sudah kumel dan menghitam.
manusia-gerobak

Bisa dibilang saya bukan satu-satunya orang yang menulis tentang keberadaan manusia gerobak maupun manusia kolong jembatan. Setiap saya melihat mereka, selalu terbesit tanya dalam benak saya. Kalau dilihat mereka kebanyakan sudah berkeluarga. Nah, karena sudah berkeluarga otomatis mereka harus memenuhi nafkah lahir dan nafkah batin. Kalau nafkah lahir, sudah jelas. Mereka mendapatkan uang dari berbagai macam perkerjaan. Mulai dari pemulung atau pekerjaan serabutan dan lain-lain yang tidak saya gali lebih dalam lagi faktanya.

Selanjutnya adalah bagaimana caranya mereka memenuhi nafkah batin? Ya kalau itu tidak usah ditanya lagi, sudah pasti melakukan hubungan suami-istri (Hubungan Seks), namun yang jadi pertanyaan dimana mereka melakukannya? Manusia Gerobak, mereka sehari-hari hidup bersama dengan gerobak, bekerja dengan gerobak, tidur pun di gerobak. Lalu saat mereka ingin melampiaskan hasrat seksual dimana mereka melakukannya? Masa mereka melakukan hubungan seks di dalam gerobak yang sempit itu? Kalau di Ancol terdapat istilah "Mobil Goyang" apa iya ada istilah "Gerobang Goyang"? Demikian pula dengan Manusia Kolong Jembatan, mereka hidup bersama-sama beberapa keluarga di bawah kolong Jembatan. Masa mereka melakukan hubungan seks sambil dilihat oleh tetangga nya? Atau mungkin ada bilik khusus yang dibuat untuk melakukan hubungan seks? Dimana masing-masing kepala keluarga sudah memiliki jadwal tersendiri? Entahlah, hal ini masih menjadi misteri bagi saya.

*picture by :
- http://supermilan.files.wordpress.com (kolong jembatan)
- http://dawaihati.com (manusia gerobak)

8 Comments

Share This :

Alhamdulillah, akhirnya bisa wisuda S2 di Universitas Indonesia. Tidak menyangka saya bisa menyelesaikan study ini. Bagi sebagian orang, mungkin ini adalah suatu hal yang biasa saja. Namun bagi saya ini adalah sebuah pencapaian yang bisa dibilang luar biasa. Saya merasakan perjuangan ini lumayan berat juga. Banyak hal yang telah saya korbankan untuk akhirnya sampai pada titik ini. Entah itu pengorbanan waktu, biaya dan tenaga. Saat menginjak semester 3 saya sempat putus asa, saya bilang sama ibu untuk berhenti saja kuliah, namun ibu saya berkata jangan dan menyuruh untuk melanjutkan. Saya termasuk orang yang berusaha untuk 100% menuruti kata-kata ibu saya, apapun itu. Jika ibu saya bilang sesuatu maka saya akan mengikuti apa kemauannya.

Selama masa kuliah, setiap senin sampai kamis sepulang kerja saya harus langsung berangkat ke kampus. Bahkan hari jumat pun kadang harus masuk. Jika tidak segera ke kampus maka bisa dipastikan telat karena jamnya tidak keburu. Jam kuliah adalah jam 19:00 sampai jam 21:30. Itu normalnya, tapi jika ada tugas dan pasti ada, tidak jarang saya pulang jam 23:00. Pernah juga tidak tidur karena tugas sudah mendekati Deadline. Sering juga pada hari sabtu harus ke kampus untuk sekedar mengerjakan tugas. Pernah juga setelah selesai kuliah saya harus kembali ke kantor karena ada sebuah pekerjaan yang harus dilakukan. Capek? Sudah pasti, tapi saya berusaha menjalani dan melaluinya. Beruntunglah orang-orang yang bisa full time kuliah.
biaya_kuliah
Perjuangan menuju tempat kuliah di salemba pun bisa dibilang tidaklah mudah. Di saat teman-teman yang lain bisa refreshing sekedar nonton atau makan bersama sepulang kerja saya harus segera berangkat untuk kuliah, karena saya masih harus naik kendaraan umum. Entah itu busway atau bus kota. Ya kalau ada uang lebih sih naik ojek. Di saat jam pulang kerja, bisa dibayangkan bagaimana penuhnya bus. Belum lagi kemacetan yang terjadi. Panas, keringat, debu dan asap kendaraan sudah menjadi teman sehari-hari dalam perjalanan menuju kampus. Ketika itu saya masih belum punya kendaraan pribadi. Boro-boro beli kendaraan pribadi, uang hasil kerja saya habis untuk membayar biaya kuliah. Uang kuliah per semester adalah 13 Juta, sehingga paling tidak saya harus menyisihkan gaji 2 Juta tiap bulan. Bahkan saya kadang berhutang dulu ketika masa pembayaran kuliah sudah harus dilakukan tetapi uangnya masih kurang. Gaji yang saya terima tidak lah besar. Bisa dibilang pas-pasan dengan kondisi saya saat itu. Namun sepertinya Tuhan telah mengatur segalanya, rizki selalu saja ada, entah dari mana datangnya. Saya tidak memerlukan waktu yang lama untuk melunasi hutang. Beruntunglah orang-orang yang mendapatkan beasiswa atau biaya kuliahnya di subsidi. Beruntunglah orang yang gajinya berlebih.

Ada dua buah keajaiban yang saya alami terkait biaya kuliah ini. Yang pertama seingat saya adalah saat semester 3, waktu pembayaran kuliah akan segera di mulai. Dan saya hitung-hitung tabungan saya saat itu tidak mencapai 8 Juta. Saya sudah pasrah jika saya tidak bisa membayar biaya kuliah. Saya pun mengadu dan memohon kepada Sang Pemilik Alam Semesta ini, "Ya Alloh harus bayar pakai apa nih?" Hutang merupakan satu-satunya jalan alternatif yang harus saya lakukan. Namun seminggu kemudian berturut-turut muncul lah perintah untuk melakukan dinas. Minggu pertama ke batam, minggu ke dua ke jambi kemudian selanjutnya ke bandung. Saya hitung-hitung lagi uang dari perjalanan dinas itu. Alhamdulillah bisa menutup kekurangannya dan pas 13 Juta. Alloh, Jika Engkau sudah berkehendak tiada hal yang mustahil bagiMu.

Keajaiban yang kedua yaitu saat semester akhir dimana penulisan thesis dimulai dan harus selesai. Yang ini lebih parah lagi, saya tidak memiliki tabungan sama sekali. Hal ini dikarenakan saya salah melakukan perhitungan. Uang itu saya pakai untuk membeli sebuah toko/ruko kecil di daerah asal saya. Akhirnya, kepada siapa lagi saya mengadu kecuali kepada Pemilik Rizki dan segala ketentuannya. Saya kembali mengadu "Ya Alloh, butuh uang nih. Jika ini memang jalan yang Engkau tentukan untukku, maka aku yakin Engkau telah merencanakan semuanya" Kemudian saya sisihkan entah berapa puluh ribu waktu itu untuk bersedekah. Saya berdoa "Alloh, turunkan uang dari langit". Saat itu saya 100% yakin dan tidak ada keraguan sedikitpun. Alloh pasti akan memberikan pertolongannya. Dan terbukti, ketika masa pembayaran mendekati masa akhir secara tiba-tiba kemudian ada seseorang yang memberikan tunai 13 Juta pas. Hati saya berteriak Allahu Akbar, Alhamdulillah... Terima Kasih Alloh. Saat itu juga saya transfer uang itu untuk membayar kuliah. Alloh, Jika Engkau sudah berkehendak tiada hal yang mustahil bagiMu.

Share This :

que_sera_seraHari ini saya mendengarkan sebuah lagu anak-anak yang katanya populer jaman dulu. Judul nya Que sera sera (what ever will be, will be). Sebuah lalu bernuansa "MA'RIFAT" yang terkenal di seluruh dunia yang biasa dinyanyikan oleh anak - anak. Dan di tulis oleh seorang Non Muslim. Jujur saja, saya baru tahu lagu ini. Saya terpana mendengarkannya. Penggalan lagunya dalam bahasa Indonesia adalah seperti ini :

Que sera, sera
Apapun akan terjadi, akan terjadi
Masa depan kita, kita tidak akan tahu
Que sera, sera
Apa yang akan terjadi, akan terjadi

Saya jadi ingat lagunya Titiek Puspa yang judulnya Kupu Kupu Malam. Saya rasa maknanya hampir sama dan sepadan. Penggalannya adalah seperti ini :

Oh apa yang terjadi, terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya

Saya ingin membandingkannya dengan sebuah ayat yang memiliki makna sama. Allah mengharuskan manusia untuk membaca bukan? Membaca apapun baik ayat Qouliyah maupun ayat Kauniyah. Maka saya pun membaca dan menelaah sebuah penggalan ayat suci Al Quran yang bunyinya kalau di rasakan dengan hati adalah sama. Kuncinya disini adalah tawakkal. Tawakkal bukan berarti pasrah.

Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang bertawakal itu berserah diri. (Ibrahim: 12)

Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu'min bertawakal. (Ali Imran: 160)

Tawakkal berarti menyerahkan semuanya kepada Allah. Syarat tawakkal adalah kita harus berusaha semaksimal mungkin, setelah itu serahkan semuanya kepada-Nya. Biarlah Allah yang menentukan karena DIA Yang Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk kita. Menyambung dengan dua penggalan lagu di atas bisa ditarik benang merah sebagai berikut :

Seseorang alim pernah bilang kepada saya, jangan takut dengan masa depan. Kejar terus apa yang menjadi impian kita, namun selanjutnya pasrahkan semuanya kepada-Nya. Jangan biarkan masa depan membuat kita resah dan gelisah sejak saat ini. Jangan biarkan rasa resah dan gelisah menghalangi langkah kita dalam mempersiapkan masa depan. Jangan sampai kebahagiaan saat ini dikacaukan oleh kekhawatiran tentang masa depan. Biarlah kekhawatiran masa depan berada di masa depan, jangan dipaksa hadir sekarang. Lakukan saja yang terbaik kemudian pasrahkan semuanya kepada-Nya. JALANI SAJA HIDUP INI.

QUE SERA SERA

Jika aku anak perempuan kecil bertanya pada ibuku.....
Jadi apakah aku besar nanti.....?
Apakah menjadi wanita cantik atau menjadi wanita kaya raya....

Jika aku anak laki - laki kecil bertanya pada ibuku.
Jadi apakah aku besar nanti.....?
Apakah menjadi Laki-laki gagah atau menjadi laki - laki kaya raya.

Ibuku menjawab seperti ini
Bukan melihat menjadi apa ketika kalian besar nanti
Tapi jalani saja kehidupan ini, yang terjadi maka terjadilah.

Share This :

Saat kita telah mencapai atau mendapatkan sesuatu yang kita inginkan maka pasti akan selalu muncul pertanyaan "What next?" Selanjutnya ngapain lagi ya? Selanjutnya apa ya?

Misalnya saja kita menginginkan beli motor, tiap gajian duit ditabung sambil liat-liat katalog dari dealer-dealer motor. Ataupun browsing-browsing liat-liat spek motor, membaca keunggulan dan kekurangannya dari ahli ataupun orang-orang yang sudah terlebih dulu memilikinya. Dan saat waktunya tiba terbelilah motor. Saat sudah memiliki motor, maka muncul lagi keinginan-keinginan yang lain. What next? Selanjutnya beli apa lagi ya?

Atau mungkin, saat weekend tiba. Kita punya keinginan untuk nonton bareng, kemudian besoknya jogging di car free day. Terus bersih-bersih kamar. Namun setelah semuanya selesai, bingung lagi kita. What next? Selanjutnya ngapain lagi ya?

Ketika masih SMP kelas 2, saya ingin cepat-cepat kelas 3 (Waktu itu SMP masih menggunakan kelas 1-3). Tapi begitu sudah duduk di bangku kelas 3, maka saya pun ingin segera selesai dan lulus. Kalau lulus kan enak bisa masuk SMA. Katanya kan SMA itu saat-saat paling menyenangkan. Eh tapi ternyata setelah masuk SMA dan mendekati masa-masa kelulusan, muncul lagi pertanyaan. What next? Kuliah dimana ya?

Begitu juga saat kuliah, ingin segera lulus jadi tidak perlu belajar lagi. Gak pusing-pusing mikirin tugas dan ujian. Bisa segera kerja dan dapat duit. Namun ternyata setelah lulus, malah bingung lagi. What next? Kerja apa ya? Kerja dimana ya? Saat bekerja malah lebih kompleks lagi. What next semakin sering muncul. Hari ini ngerjain apa ya? Besok ngerjain apa ya? Tahun depan targetnya apa ya?

whatsnext

Si "What next" selalu ada di dalam kehidupan kita. What next menentukan akan seperti apa hidup kita. Saya masih galau juga tentang what next ini. Saya kira saat saya sudah merancang sebuah roadmap maka si "what next" akan sirna dan tidak menghinggapi lagi. Ternyata saya salah, what next menjelma menjadi bentuk lain yang lebih detail lagi. yaitu bagaimana caranya? What next, apa yang harus dilakukan? Begitulah what next merupakan wujud dari visi dan misi kita. Mau jadi apa kita, mau seperti apa kita.

Saat tulisan ini selesai ditulis, mucul juga si "what next", Besok nulis apa ya?