Monthly Archives: March 2014

Share This :

Diriwayatkan oleh Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi, bahwa suatu hari ketika Abu Yazid al-Busthami sedang dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, beliau menyempatkan diri mampir mengunjungi temannya, seorang Sufi di Bashrah.

Secara langsung dan tanpa basa-basi, Sufi itu menyambut kedatangan beliau dengan sebuah pertanyaan: “Apa yang anda inginkan hai Abu Yazid?”.

Abu Yazid pun segera menjelaskan: “Aku hanya mampir sejenak, karena aku ingin menunaikan ibadah haji ke Makkah”.

“Cukupkah bekalmu untuk perjalanan ini?” tanya Sang Sufi.

“Cukup” jawab Abu Yazid.

“Ada berapa?” Sang Sufi bertanya lagi.

“200 dirham” jawab Abu Yazid.

Sang Sufi itu kemudian dengan serius menyarankan kepada Abu Yazid: “Berikan saja uang itu kepadaku, dan bertawaflah di sekeliling hatiku sebanyak tujuh kali”.

Dengan tenang, Abu Yazid pun mematuhi dan menyerahkan 200 dirham itu kepada Sang Sufi tanpa ada rasa ragu sedikitpun.

Selanjutnya Sang Sufi itu mengungkapkan: “Wahai Abu Yazid, hatiku adalah rumah Allah, dan ka’bah juga rumah Allah. Hanya saja perbedaan antara ka’bah dan hatiku adalah, bahwasanya Allah tidak pernah memasuki ka’bah semenjak didirikannya, sedangkan Dia tidak pernah keluar dari hatiku sejak hatiku dibangun oleh-Nya (semenjak diprosesi PHQ = Pengangkatan Hijab-Qolbu / Kerak-Dosa, dengan izin dan rahmat-Nya semata)”.

Abu Yazid hanya menundukkan kepala, dan Sang Sufi itupun mengembalikan uang itu kepada beliau dan berkata: “Sudahlah, lanjutkan saja perjalanan muliamu untuk berkunjung ke Bait Kudus-Nya, menjadi Tamu Allah.” perintahnya.

Demikianlah peristiwa yang kemudian menggerakkan hati Abu Yazid untuk memasuki Dunia Sufi dan mempelajari Ilmu Tasawuf dan mengamalkannya dengan memasuki Tarikat Shiddiqiyah yang digagas dan dirintis oleh Sahabat Nabi Besar Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Di kelak kemudian hari, Abu Yazid al-Busthami menjadi seorang Guru Sufi yang Waliyyam-Mursyida (Syaikh Mursyid). Beliau adalah Sufi Agung yang menjadi Sulthanul 'Awliya (Al-Ghauts, Quthb) pada zamannya yang menggagas dan mendirikan Tarikat Thaifuriyyah yang diambil dari nama kecil beliau: Thaifur.

Beliau sangat terkenal di Langit Ketinggian Ilahi dan di Dunia Sufi. Beliau sangat tidak asing lagi di hati para penimba ilmu tasawuf, khususnya tasawuf falsafi. Beliau wafat sekitar tahun 261 H.

Sedangkan Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi (yang meriwayatkan kisah di atas) adalah juga seorang Sufi Agung / Guru Sufi yang Waliyyam-Mursyida (wafat tahun 645 H) yang telah banyak menganugerahkan inspirasi dan motivasi spiritual kepada salah seorang muridnya yang di kemudian hari menjadi Sufi Agung / Guru Sufi yang Waliyyam-Mursyida (Syaikh Mursyid), yang sangat terkenal di Akhirat dan dunia, yaitu Syaikh Jalaluddin ar-Rumi, penggagas dan pendiri Tarekat Maulawiyah (wafat tahun 672 H).