Monthly Archives: June 2015

Share This :

Kalau sudah garam melarut ke dalam asin.

Kenapa lagi asin mau di garamkan.

Wahai si fulan yang digelar Sang Salik Sejati.
Kau ibaratnya hantu yang bebas.
Merasuk di setiap badan-badan.
Menari-nari dengan irama kedamaian.
Melompat dengan momentum yang tidak berhalang.
Jiwa yang tidak tersangkut sesuatu yang asyik dan masyuk.

AKU LAH
ALIF LAM LAM HA.

kesatuan tapi tidak bercampur.

AKU dzat menjadi nur muhammad dan dzat rahasia dirimu dalam awal azali sebagai ALIF.

AKU sifat menjadi roh dan nyawa mu dalam awal azali sebagai LAM (AWAL).

AKU asma menjadi hati dan nafsu mu dalam awal azali sebagai LAM( AKHIR)

AKU afaal menjadi kelakuan dan tubuh mu dalam awal azali sebagai HA

ITU LAH KENYATAAN JELAS BAGI ALLAH.

Maka jika kau si fulan tidak bisa menyebut NAMA KU ALLAH.
Kau lah sebenar-benar yang telah berdiri, beruku', bersujud, berduduk dalam kesaksian Yang Tulus.

Segalanya bukan membabit hal dirimu.
RAHASIA DIRIMU.

"KAU BUKAN SEPERTI ITU"

-- tafsiran sajak : Maksud dari sajak diatas adalah tentang FANA, yang bisa dijelaskan dengan kalimat-kalimat ringan seperti ini

garam adalah sifat, asin adalah dzat.
dzat mendzahirkan dirinya pada sifat, maka nampaklah garam,

dimana letak asin pada garam?
meliputi... jauh tiada berjarak,, dekat tak berantara

dimana ada sifat, disitu pasti ada dzat
Nama dengan yang Punya nama tiada terpisahkan

Asal asin Dari garam, tetapi asin itu tidak selalu dari garam. Tetapi berkait, misalnya air laut dan air peluh.
Zat Allah zat Ku.
Sifat Allah sifat Ku.
Isma' Allah isma' Ku
Afaal Allah afaal Ku.
Allah Dari Ku namun Allah menyatakan Ku.
Aku ada pada yg ada. Karena keEsaan Ku.. Allah nama Ku bukan pada kamu...

Aku Aku... kamu kamu..
Kenal Allah maka kenal Aku.. namun Aku bukan Allah..
Siapa Aku.. Siapa Allah.. terhimpun pada kamu..

Share This :

Adakah persamaan antara Hati dengan Radio atau Telepon Seluler?

Saat saya masih kecil ditahun 90an, saya takjub dengan adanya telepon. Hanya dengan menggunakan kabel saja, suara yang jaraknya ratusan kilometer bisa di transfer dengan cepat. Agak besar sedikit, saya takjub dengan adanya handphone atau telepon seluler, tanpa adanya penghubung yang namanya kabel, kita bisa ber-sms-an dan mendengarkan suara yang jaraknya ratusan kilometer. Bagaimana bisa benda segiempat kecil seperti itu bisa mengeluarkan suara orang yang keberadaannya entah dimana. Bagaimana caranya? Demikian saya bertanya-tanya waktu itu.

Saya juga takjub dengan radio, nenek saya hoby mendengarkan radio. Nenek paling sering mendengarkan ceramah KH. Zainudin MZ tiap jam 5:00 abis shubuh. Kaset yang di-play oleh operator yang jaraknya puluhan kilometer itu bisa di dengarkan suaranya dari rumah. Bagaimana caranya? Demikian saya bertanya-tanya waktu itu.

Itulah kehebatan teknologi, yang awalnya di salurkan lewat kabel saat ini disalurkan lewat udara. Manusia-manusia modern saat ini sudah memiliki pengetahuan bahwa sebuah handphone memiliki frekuensi sekian dan kemampuan menangkap sinyal lalu mengubah paket suara menjadi paket data lalu dikonversi lagi menjadi paket suara-akhirnya sampai ke penerima.

Demikian juga dengan radio, saat kita melakukan scanning atau memutar tuning. Kita mencari-cari frekuensi yang dipancarkan oleh pemancar radio. Begitu berhenti di frekuensi yang pas, kita bisa langsung mendengarkan siaran radio saat itu juga.

Intinya adalah apa yang dikirim akan diterima, apa yang dipancarkan akan ditangkap karena memiliki frekuensi yang sama.

Frekuensi_Hati

Saat ini kita tahu tentang adanya resonansi, yaitu bergetarnya suatu benda karena pengaruh getaran benda lain. Lebih simpelnya bisa juga dengan istilah tertular getaran frekuensi. Resonansi hanya bisa terjadi jika kedua benda memiliki frekuensi yang sama.

Hati adalah tempat terjadinya resonansi.

Pada suatu hari, entah kenapa saya sangat ingin sekali pulang kerumah. Namun saat itu kondisi keuangan sedang mepet. Tidak cukup untuk membeli tiket pulang pergi Jakarta - Surabaya. Keinginan saya untuk pulang sangat kuat, sehingga membuat saya yakin bahwa Tuhan akan memberikan rejeki. Lagi pula niat saya pulang baik, ingin bertemu Ibu. Singkat cerita, saya mendapatkan tugas untuk melakukan perjalanan dinas ke Surabaya. Saya pun bisa pulang tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun untuk membeli tiket pesawat. Sesampainya di rumah, ibu saya bilang kalau beliau memang sudah rindu dan ingin saya pulang tapi tidak diucapkan melalui kata-kata langsung kepada saya. Tidak melalui sms, tidak melalui telepon, tidak juga melalui orang lain.

Kebetulan? Ajaib? Klenik?

Sebenarnya tidak ada istilah klenik jika sudah tahu ilmunya. Hal ini bisa di jelaskan dengan logika simpel. Sekarang mari kita hubungkan dengan Teori Quantum Max Planck.
Max Planck, ahli fisika dari Jerman, pada tahun 1900 mengemukakan teori kuantum. Planck menyimpulkan bahwa atom-atom dan molekul dapat memancarkan atau menyerap energi hanya dalam jumlah tertentu. Jumlah atau paket energi terkecil yang dapat dipancarkan atau diserap oleh atom atau molekul dalam bentuk radiasi elektromagnetik disebut kuantum. Planck menemukan bahwa energi foton (kuantum) berbanding lurus dengan frekuensi cahaya.

E = h . ѵ  dimana  ѵ = c / λ  sehingga  E = h . c / λ

E = Energi
h = Konstanta Planck (konstanta)
ѵ = Frekuensi Radiasi
c = Kecepatan Cahaya (konstanta)
λ = Panjang Gelombang

Dari rumus teori quantum tersebut, bisa didapatkan penafsiran atau kesimpulan sebagai berikut :

* Energi berbanding lurus dengan frekuensi, yang berarti semakin tinggi frekuensi maka energi juga semakin besar.
* Energi berbanding terbalik dengan panjang gelombang (jarak), yang berarti makin jauh jarak maka energinya akan semakin kecil.
* Panjang gelombang (jarak) berbanding terbalik dengan frekuensi, yang berarti jika frekuensi tinggi maka jarak akan pendek.

Menurut logika yang dapat saya tangkap adalah, bahwa frekuensi yang dipancarkan ibu bisa saya terima. Sehingga terjadilah resonansi antara hati ibu dan hati saya. Singkatnya begini, Ibu ingin saya pulang, namun Ibu menyampaikannya melalui sebuah doa. Hatinya bergetar memohon melalui sebuah doa. Yang mana doa itu menggetarkan hati saya agar pulang. Dan getaran hati saya kemudian menggetarkan lingkungan sekitar saya, yang kemudian karena kuatnya getaran-getaran itu menyebabkan Energi yang dihasilkan besar sehingga membuat semesta tunduk dan memberikan saya jalan untuk pulang.

Katakanlah getaran hati itu adalah frekuensi, frekuensi yang tinggi akan membuat jarak menjadi pendek. Tingginya getaran hati (frekuensi hati) ibu saya membuat panjang gelombang / jarak menjadi pendek. Yang mana hal ini berarti ibu dan saya memiliki "kedekatan bathin". Maka ketika ibu berkeinginan agar saya pulang, maka sebenarnya saya "mendengarnya" dengan jelas. Disini, hati ibu dan saya mengalami resonansi. Dua hati bergetar pada frekuensi yang sama.

Namun, ketika kedekatan hati tak ada sedikitpun (lambda tinggi / panjang gelombang melebar), maka boro-boro pake getaran hati–ditelpon berulangkali disuruh pulang pun nggak mau. Bisa ditafsirkan "energi" untuk membuat sang anak pulang sangatlah lemah, karena jarak hati sangat jauh.

Fenomena ‘dekat-jauh’ ini terjadi juga diantara kita. Anak-orangtua, atasan-bawahan, Suami istri, ataupun pertemanan. Pasti diantara kita pernah memikirkan seseorang yang kemudian tak beberapa lama, tiba-tiba orang tersebut telepon/sms/chat atau mungkin muncul dihadapan kita. Bisa jadi itu menunjukkan  seberapa kuat frekuensi hati kita untuk bisa didengarkan oleh hati lain. Jika hati lain mendengarkan-tergetar-terpanggil atau menyambut, berarti frekuensi hati kita tinggi dan jarak hati kita sangat dekat dan mengalami resonansi, lalu alampun membantu.
Jadi sebenarnya baik itu telepati, doa, harapan, mantera, dsb itu memiliki kekuatan yang masuk akal. Kendati bukan bersumber dari kebendaan.

 

Referensi :

http://mayaerna.blogspot.com/2013/05/bagian-4-persamaan-gelombang.html

http://mayaerna.blogspot.com/2013/05/bagian-6-pengertian-gelombang.html

http://izulthea.blog.com/2012/03/08/jika-hati-beresonansi-mengikuti-hukum-fisika/

http://itsadityalife.blogspot.com/2013/03/tugas-fisika-telepon-kaleng.html

http://www.hptekno.com/2013/06/24/sejarah-dan-cara-kerja-telepon-kaleng/