Sejarah Kakek

Share This :

Sudah lama sekali saya ingin menulis tentang kakek saya. Semoga saja beliau berkenan.

SUMA ILA RUHI KHUSUSON mbah Taptozani. Al Fatihah.

Nama adalah sebuah doa dari orang tua kepada kita. Di belakang nama saya tedapat nama kakek saya. Waktu saya masih kecil saya kurang pede dengan nama belakang saya, karena tidak lazim di telinga teman-teman maupun orang-orang sehingga banyak yang bertanya. Namun setelah saya mengetahui siapa beliau, saya merasa berat juga beban saya menyandang nama itu. Beliau mbah Taptozani / Taptojani / Taftozani / Taftazani, jika di hitung ke bawah, maka saya berada di urutan / keturunan nomer 6. Selama 6 turunan itu tidak ada yang menyandang nama beliau, cuma saya saja. Mungkin harapan orang tua adalah biar saya bisa seperti beliau. Entahlah, saya tidak pernah bertanya. Beliau di makamkan di sebuah desa bernama Desa Kradenan, yang terletak di kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo.

Makam K TaptozaniCungkup Makam K Taptozani

Baginilah urutan garis keturunan itu :

[Mardliyah] -> [K Taptozani] -> [K Muhammad Sayid] -> [K Kasan Ali] -> [Kakek] -> [Ayah] -> [Saya]

Sedangkan dari jalur istri :

[K Muhammad Bin Umar (K Banjarsari 1)] -> [K Ali Imron (K Banjarsari 2)] -> [Ny Taptozani II]

Kyai Muhammad Bin Umar adalah putra menantu dari Kyai Ageng Muhammad Besari. Nyai Muhammad Bin Umar dinikahi oleh Kyai Muhammad Bin Umar. Kemudian Kyai Mohammad Bin Umar membuka lahan yang kelak dinamakan Banjarsari.

Asal-usul nama desa kradenan berhubungan dengan Kakek saya K Taptozani. Yaitu sebagai berikut :

Pada sekitar abad 16 ada seorang pendatang yang menduduki di pinggir sungai sebelah timur yang bernama mbah Melik atau mbah Nuryadi, beliau bersahabat dengan seorang pendatang dari daerah Bayat yang bernama mbah Mardliyah, yang tadinya ada di seberang sungai, lalu keduanya bersatu dan membuka pemukiman baru. Setelah beberapa lama mbah Mardliyah mempunyai anak yang bernama Kyai Taptozani yang beliau terkenal dengan tariqah Sathoriyah. Konon pada masa itu dzikir Kyai Taptozani terdengar sampai Keraton Solo bahkan Pekalongan. Akhirnya beliau dipanggil menghadap ke kraton Solo dan di mintai penjelasan mengenai dzikir yang terdengar sampai Solo tersebut. Setelah diberi penjelasan secukupnya justru kyai Taptozani diberi gelar Raden, tapi beliau tidak menerimanya. Akhirnya panembahan keraton Solo meminta kepada beliau untuk menjadikan nama Raden sebagai nama tempat tinggalnya. Sejak itulah desa sini diberi nama tempatnya Raden atau Kradenan.

3 thoughts on “Sejarah Kakek

  1. Alhmdlh saya asli dri kradenan Jetis ponorogo. Dri kiai2 saya tau kiai maskur dan kiai abdul ghofur. Dri kiai niki mgkin msih kturuan k 3 ato 4 dr kiai Mardliyah. Dri Putra kiai maskur kiai masyrukin pendiri pondok Al-Mardliyah Kradenan

    Reply
      1. Salam mas zein.....klo gak salah pean pernah kmpol klrga d mbh nafsiyah. Apa yg pean maksud mbh napsiyah ibuk dri kang andi.....lek mus. Yg pny sdr kmbar Salbiyah suami mukmin saleh. Pnya anak kang mansur. Mukmin saleh itu pakde saya. Klo mbh nafsiyah baru meninggal siang hari ini. Dmkamkan lepas traweh.

Leave a Reply